eJourney

8 Keterampilan yang Perlu Diajarkan di Sekolah

Dipublikasikan pada 24 September 2026
8 Keterampilan yang Perlu Diajarkan di Sekolah

8 Keterampilan yang Dianggap Perlu Diajarkan di Sekolah: dari Pajak hingga AI

Pertama kali menerima slip gaji, bingung membaca potongannya. Saat menjadi bendahara kegiatan, kewalahan merapikan pengeluaran. Ketika membuat konten promosi, sudah menghabiskan waktu berjam-jam tetapi responsnya sepi. Pengalaman seperti ini membuat kita berpikir, “Andai dulu sempat belajar ini di sekolah.”

Pembicaraan tentang keterampilan yang perlu diajarkan di sekolah juga muncul dalam postingan @asahpolapikir di Threads. Ia mengajak pembaca membayangkan sekolah yang mengajarkan perpajakan, investasi, konten, legalitas, digital marketing, AI, aplikasi produktivitas, dan e-commerce.

Daftar tersebut menarik untuk dikembangkan menjadi pembelajaran yang dekat dengan kehidupan anak. Melalui latihan sesuai usia, murid bisa belajar memahami informasi, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan pilihannya.

Berikut delapan keterampilan tersebut, alasan pentingnya, dan contoh penerapannya di sekolah.

1. Perpajakan: memahami penghasilan dan kontribusi kepada masyarakat

Bayangkan seorang lulusan baru menerima gaji pertamanya. Nominal yang masuk ke rekening berbeda dari angka yang ia ingat dalam penawaran kerja. Ketika membuka slip gaji, ia belum memahami perbedaan pajak dan potongan lainnya.

Pengenalan perpajakan memberi murid dasar untuk menghadapi situasi tersebut. Mereka dapat belajar tentang fungsi pajak, mengenali informasi dalam dokumen keuangan, dan mencari penjelasan melalui sumber resmi.

Pada jenjang dasar, guru bisa mengajak anak membahas fasilitas publik yang digunakan sehari-hari dan bagaimana kebutuhan bersama dibiayai. Pada jenjang menengah, latihan dapat berkembang menjadi membaca slip gaji fiktif dan menyusun pertanyaan tentang komponen di dalamnya.

Kebiasaan membaca dokumen dan bertanya akan berguna ketika mereka mulai bekerja atau menjalankan usaha. Detail kewajiban perpajakan kemudian dipelajari sesuai kondisi pribadi dan ketentuan yang berlaku.

2. Investasi: menimbang tujuan, waktu, dan risiko

Seorang remaja melihat konten yang menjanjikan uang berkembang cepat. Temannya ikut membagikan, tampilannya meyakinkan, dan kolom komentarnya penuh cerita sukses. Ia merasa harus segera ikut agar tidak tertinggal.

Situasi ini bisa menjadi pintu masuk untuk membahas literasi keuangan. Sebelum mengambil keputusan, anak perlu terbiasa bertanya: untuk apa uang ini disiapkan, bagaimana cara kerjanya, dan apa risikonya?

Pembelajaran dapat dimulai dari mengelola uang saku, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyusun target tabungan. Murid yang lebih besar dapat mengikuti simulasi investasi tanpa uang sungguhan untuk memahami bahwa hasil tidak selalu sesuai harapan.

OJK juga menekankan pentingnya literasi keuangan bagi pelajar untuk mempersiapkan masa depan dan menghindari jebakan keuangan. Sumber: OJK

3. Konten: menarik perhatian dan membangun interaksi

Siswa sudah membuat video promosi pentas seni. Gambarnya bagus dan proses editnya menghabiskan waktu berjam-jam, tetapi responsnya sepi. Sementara itu, video sederhana tentang keseruan latihan justru mengundang komentar dan pertanyaan tentang tiket.

Perbandingan ini dapat menjadi bahan belajar tentang konten. Murid berlatih mengenali audiens, memilih topik yang relevan, membuat pembuka yang menarik, dan menyusun cerita yang membuat orang ingin terus menonton.

Untuk mempromosikan bazar sekolah, misalnya, mereka bisa membuat konten proses pembuatan produk, rekomendasi jajanan sesuai anggaran, atau ajakan memilih menu favorit. Tujuannya ditentukan sejak awal: mengundang komentar, mendorong orang membagikan informasi, atau mengarahkan penonton ke halaman acara.

Guru kemudian membantu murid membaca hasilnya. Konten mana yang ditonton sampai selesai? Mana yang mendapat tanggapan bermakna? Mana yang membawa pengunjung ke informasi acara?

Dari sini, murid belajar memperbaiki karya berdasarkan respons audiens. Keterampilan tersebut dapat digunakan saat memperkenalkan portofolio, mengembangkan usaha, atau mengajak masyarakat mendukung sebuah kegiatan.

4. Legalitas: memahami hak, tanggung jawab, dan kesepakatan

Seorang siswa menerima pekerjaan desain sederhana. Harga sudah disepakati, tetapi jumlah revisi dan waktu pembayaran belum dibahas. Ketika permintaan terus bertambah, ia kebingungan menyampaikan keberatan.

Pemahaman dasar tentang kesepakatan membantu anak mengenali hal-hal yang perlu diperjelas sejak awal. Lingkup pekerjaan, tenggat, pembayaran, dan penggunaan karya dapat dibahas melalui contoh kasus.

Guru bisa menyiapkan perjanjian fiktif yang sederhana. Murid diminta menandai bagian yang membingungkan, menjelaskan kemungkinan masalahnya, dan menyusun pertanyaan sebelum menyetujuinya.

Latihan ini membangun kebiasaan membaca dengan teliti. Untuk persoalan nyata, anak juga perlu memahami kapan harus melibatkan orang tua, guru, atau tenaga profesional.

5. Digital marketing: menghubungkan promosi dengan tujuan

Panitia acara berhasil membuat video yang ramai ditonton, tetapi pendaftar tetap sedikit. Setelah diperiksa, tautan pendaftaran sulit ditemukan dan informasi biaya belum jelas.

Kasus tersebut menunjukkan hubungan antara konten dan pemasaran digital. Konten menarik perhatian, sedangkan strategi pemasaran mengatur langkah berikutnya: informasi apa yang dibutuhkan orang dan bagaimana mereka bisa mendaftar atau membeli.

Di sekolah, murid dapat merancang promosi kegiatan secara sederhana. Mereka menentukan sasaran pembaca, memilih kanal, menyusun pesan, menyediakan informasi acara, lalu mengevaluasi jumlah pendaftaran.

Murid juga dapat membandingkan dua versi pengumuman untuk melihat mana yang lebih mudah dipahami. Dari latihan ini, mereka belajar bahwa keberhasilan promosi perlu dinilai berdasarkan tujuan yang ditetapkan.

6. AI: menggunakan teknologi dengan pemahaman dan penilaian sendiri

Seorang murid meminta AI menjelaskan sebuah materi. Jawabannya terdengar meyakinkan, tetapi ada informasi yang keliru. Karena langsung disalin, kesalahan tersebut ikut masuk ke tugasnya.

Pembelajaran AI perlu memberi ruang untuk memeriksa jawaban, membandingkan sumber, dan menjelaskan kembali hasilnya dengan pemahaman sendiri. Kerangka kompetensi AI untuk siswa dari UNESCO juga menekankan penilaian kritis, etika, dan penggunaan yang bertanggung jawab. Sumber: UNESCO

Sebagai latihan, guru dapat menyediakan contoh jawaban AI untuk dibandingkan dengan buku pelajaran atau sumber tepercaya. Murid menandai bagian yang akurat, meragukan, dan perlu diperbaiki.

Mereka juga belajar menjelaskan penggunaan AI dalam tugas serta menjaga data pribadi. Kegiatan disesuaikan dengan usia, ketentuan layanan, dan kebijakan sekolah.

7. Excel, PowerPoint, dan Word: membuat pekerjaan mudah dipahami

Menjadi bendahara kelas terasa mudah sampai catatan uang masuk dan keluar tidak cocok. Membuat presentasi terasa selesai sampai seluruh laporan dimasukkan ke dalam satu slide.

Kebutuhan seperti ini dapat menjadi titik awal pembelajaran aplikasi produktivitas. Murid belajar mengolah angka, menyusun dokumen, dan menyampaikan informasi menggunakan Excel, PowerPoint, Word, atau aplikasi sejenis yang tersedia.

Satu proyek kegiatan sudah cukup untuk melatih ketiganya. Murid membuat anggaran dengan spreadsheet, menulis proposal yang terstruktur, lalu mempresentasikan rencananya.

Guru dapat menilai ketepatan rumus, kejelasan dokumen, dan hubungan antara data dengan kesimpulan. Dengan begitu, murid memahami bahwa pekerjaan harus bisa dibaca, diperiksa, dan digunakan oleh orang lain.

8. E-commerce: memahami transaksi dari pesanan hingga keluhan

Dalam simulasi bazar, sebuah kelompok berhasil menjual banyak produk. Namun, setelah menghitung bahan, kemasan, dan pengiriman, keuntungan yang tersisa jauh lebih kecil daripada perkiraan.

Pengalaman tersebut membantu murid memahami perjalanan sebuah transaksi. Ada biaya yang harus dicatat, stok yang perlu diperiksa, pesanan yang harus dipenuhi, dan pembeli yang membutuhkan informasi jelas.

Pembelajaran dapat dilakukan melalui toko simulasi tanpa akun jual-beli atau transaksi sungguhan. Murid bergantian menjadi penjual dan pembeli, lalu mengevaluasi deskripsi produk, pencatatan pesanan, serta penanganan keluhan.

Dari sisi pembeli, mereka berlatih membaca rincian barang, menghitung total biaya, dan memahami ketentuan pengembalian sebelum mengambil keputusan.

Memberi ruang untuk belajar melalui pengalaman

Delapan keterampilan tersebut dapat dihubungkan dengan pelajaran dan kegiatan yang sudah berjalan. Proyek bazar, misalnya, menyediakan kesempatan untuk berlatih berhitung, menulis, berkomunikasi, menggunakan teknologi, dan mempertanggungjawabkan keputusan.

Kedalaman materinya perlu disesuaikan dengan usia. Anak SD dapat mulai dari uang saku, izin memakai foto, dan menyampaikan informasi. Murid SMP bisa mencoba anggaran serta toko simulasi. Pada jenjang SMA atau SMK, pembahasan dapat berkembang ke dokumen kerja, risiko keuangan, dan evaluasi penggunaan AI.

Guru memegang peran penting dalam proses ini: mendengarkan alasan murid, mengajukan pertanyaan lanjutan, dan membantu mereka belajar dari kesalahan. Pendampingan tersebut membutuhkan waktu dan perhatian.

Sekolah lebih efisien, guru punya lebih banyak ruang untuk membimbing

Membimbing murid mengevaluasi konten, memahami keputusan keuangan, atau menyelesaikan proyek membutuhkan waktu dan perhatian. Sekolah dapat mendukungnya dengan menata pekerjaan rutin seperti pengelolaan materi, tugas, dan penilaian.

eJourney menyediakan implementasi Canvas LMS serta dukungan AI untuk pembuatan konten dan penilaian. Pemanfaatannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, dengan guru tetap meninjau hasil dan menentukan keputusan pembelajaran.

Ketika alur kerja lebih efisien, sekolah memiliki peluang untuk mengalokasikan lebih banyak waktu bagi pendampingan keterampilan hidup siswa, termasuk kebutuhan yang muncul di luar materi pelajaran sehari-hari.

Mari jadwalkan meeting bersama eJourney untuk membahas pekerjaan rutin yang bisa dibuat lebih efisien di sekolah Anda, agar guru memiliki lebih banyak ruang untuk membimbing keterampilan yang juga dibutuhkan murid.

Jadwalkan diskusi bersama eJourney melalui situs kami.

Cookie Settings

We use cookies to make your experience better. You can accept all cookies or choose your preferences.