Efisiensi vs Gengsi: eJourney Hadir dalam Acara JAMS Expo & Forum 2026

Awal Februari lalu, tepatnya tanggal 4-6 Februari 2026, kemeriahan dunia pendidikan berkumpul di satu titik, yaitu pada acara Jakarta Academic Management System (JAMS) Expo & Forum 2026 yang diselenggarakan oleh LLDikti Wilayah III. Acara yang menjadi magnet bagi para siswa SMA dalam mencari kampus impian ternyata memiliki sisi lain yang tidak kalah krusial untuk perguruan tinggi dan dunia pendidikan, yaitu bagaimana para institusi ini berlomba-lomba membangun sistem digital secara mandiri dalam mengejar digitalisasi.
Tak hanya sebagai pameran promosi bagi kalangan perguruan tinggi untuk calon-calon mahasiswa, dalam pameran pendidikan JAMS Expo 2026 ini juga terdapat diskusi hangat dan mendalam untuk membahas masa depan infrastruktur pendidikan. Ini menjadi salah satu momen penting bagi eJourney, dimana kami mengupas masalah yang sering kali tidak terlihat terkait masalah digital yang terjadi di tengah-tengah institusi pendidikan dalam sharing session ini.
Jebakan ‘Inovasi Sendiri’ yang Berujung Masalah Baru
Salah satu hal yang membuktikan fenomena tersebut terjadi adalah penerapan Learning Management System (LMS) dalam sebuah institusi. LMS itu sendiri adalah perangkat lunak berbasis web yang dirancang untuk merencanakan, mendistribusikan, mengelola, dan melacak aktivitas pembelajaran secara online. Beberapa tahun terakhir ini, LMS telah menjadi simbol dari kata kemajuan dalam dunia pendidikan. Banyak perguruan tinggi yang berlomba-lomba mengimplementasikannya, dan bahkan dengan membangun sistem secara mandiri demi menyesuaikan kebutuhan internal.
Namun yang tidak diketahui adalah di balik kemajuan tersebut terdapat suatu masalah yang menggerogoti mereka di belakang. Tidak sedikit dari institusi yang berusaha merancang sistem LMS secara mandiri ini justru berakhir menuai beragam tunggakan, seperti sistem yang terlalu kompleks untuk dibangun, biaya yang terlalu mahal dalam perawatan dan manajemen sistem, serta alat yang belum tentu mudah untuk digunakan oleh para pengajar dan siswa. Alih-alih meningkatkan kualitas pembelajaran, apa yang telah disebut sebagai sebuah inovasi ini justru menjadi beban operasional baru. Fokus bergeser dari pengalaman belajar ke urusan teknis yang menyita waktu dan sumber daya.

Melihat situasi ini, kami memutuskan untuk mengambil pendekatan yang sangat berbeda dalam JAMS Expo & Forum 2026. Sebagai mitra resmi Canvas by Instructure di Indonesia, eJourney membawa sebuah ekosistem belajar dengan standar kampus kelas dunia—Harvard University, University of Washington, UC Berkeley, dll—tanpa perlu mengatur sebuah ekosistem dari dasar atau mengeluarkan biaya yang besar. Dengan demikian, eJourney dapat membantu proses belajar-mengajar dengan solusi LMS yang tidak hanya siap digunakan, tetapi juga dirancang khusus untuk melengkapi sebuah ekosistem belajar-mengajar secara menyeluruh: dari analitik, pembelajaran interaktif, hingga penilaian otomatis melalui fitur AI Assessment & Roleplay.
Selain itu, suatu keadaan dalam proses digitalisasi tidak akan tuntas tanpa kehadiran kesiapan sumber daya manusia. Oleh karena itu, eJourney juga menyoroti hal ini pada segmen yang menjelaskan pentingnya adanya suatu dukungan bagi para calon pendidik. Itu sebabnya, eJourney menyediakan kebutuhan pelatihan bagi para pengajar dalam hal produksi suatu video pembelajaran. Proses ini juga menegaskan satu hal penting, yaitu teknologi seharusnya dapat menyertai pekerjaan manusia menjadi semakin mudah, bukan menggantikan hal tersebut.
Acara JAMS Expo & Forum 2026 menunjukkan bahwa pertanyaan digitalisasi pendidikan bukan lagi ‘Apakah’ tetapi ‘Bagaimana caranya menerapkannya’. Karena di tengah semangatnya sebuah institusi pendidikan dalam menjadi modern dan unggul, mereka dihadapkan pada dua pilihan: apakah harus mengorbankan efisiensi demi gengsi dengan membangun sistem yang sulit dikelola dan memakan sumber daya yang besar? Ataukah memilih opsi yang lebih bijak, seperti memanfaatkan sistem yang lebih efisien serta lebih berkelanjutan? Dengan pertanyaan tersebut kita diingatkan bahwa digitalisasi bukanlah tentang siapa lebih cepat dalam memiliki teknologi, tetapi siapa yang lebih cerdas dalam memilih solusi.
Bagi institusi yang ingin melakukan langkah digitalisasi, sekarang saatnya untuk meninjau kembali langkah strategis yang diambil. Membangun LMS sendiri memang terasa mewah. Namun, jika biaya yang dikeluarkan untuk pengembang dan perawatannya sangat besar, perkembangan justru dapat terhambat. Oleh karena itu, institusi dapat mempertimbangkan pemanfaatan LMS yang telah tersedia dan menawarkan fasilitas lengkap serta modern, seperti eJourney.
Canvas LMS yang kami tawarkan telah dinilai fleksibel, efisien, dan inovatif oleh banyak kalangan kelas dunia. Selain itu, penggunaan Canvas tidak mengharuskan institusi memiliki server pribadi. Sehingga, risiko lonjakan kebutuhan server saat masa ujian pun dapat dihindari karena sistemnya telah dirancang dengan skalabilitas yang memadai. Maka dari itu, sekolah dan perguruan tinggi dapat berkolaborasi dengan eJourney yang telah memiliki infrastruktur pendidikan all-in-one untuk memfasilitasi kebutuhan pengajar maupun siswa.